LANGGUR,POJOKMALUKU.COM – Sekolah Tinggi Ilmu-ilmu Sosial (STIS) Tual-Maluku Tenggara menegaskan komitmennya untuk terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui rencana pembukaan program studi baru dan perubahan nama lembaga agar lebih sesuai dengan wilayah administratif.
Hal itu disampaikan Ketua STIS, Bernardus Rettob, dalam konferensi pers usai kegiatan wisuda STIS Tual yang digelar di Villia Hotel Langgur, Selasa (7/10/2025).
Menurut Rettob, pihaknya tengah menyiapkan program studi baru di bidang Destinasi Wisata atau Pariwisata, sejalan dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu unggulan.
“Melihat potensi daerah di bidang perikanan dan pariwisata, kami berupaya membuka program studi Destinasi Wisata atau Pariwisata. Ini menjadi kontribusi nyata STIS dalam mendukung pengembangan sektor unggulan daerah,” ujarnya.
Selain membuka program baru, STIS juga berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus. Saat ini, STIS memiliki 20 dosen, di mana 15 di antaranya telah bergelar magister (S2).
“Kami sedang berupaya agar para dosen dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor (S3). Peningkatan kualitas tenaga pengajar menjadi prioritas utama kami,” tambah Rettob.
Lebih lanjut, Rettop menjelaskan bahwa STIS Tual aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan daerah, seperti Festival Pesona Meti Kei dan Sail to Indonesia, di mana dosen dan mahasiswa terlibat langsung sebagai panitia dan penggerak kegiatan.
“Kami tidak hanya mendukung, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap event daerah untuk mempromosikan budaya dan potensi wisata Maluku Tenggara,” jelasnya.
Terkait rencana perubahan nama lembaga, Rettob mengungkapkan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2007 tentang Kota Tual, STIS akan mengganti nomenklatur dari ‘STIS Tual’ menjadi ‘STIS Maluku Tenggara’ atau ‘STIS Langgur’, sebab lokasi kampus berada dalam wilayah administratif Kabupaten Maluku Tenggara.
“Surat dari pemerintah daerah sudah kami terima, dan kami berharap proses ini cepat diselesaikan. Harapan Pak Bupati juga sama, agar STIS menjadi milik Maluku Tenggara sepenuhnya,” tegasnya.
Di akhir konferensi pers, Rettob
menyampaikan optimisme bahwa perubahan ini akan menjadi tonggak penting bagi kemajuan pendidikan tinggi di wilayah Kei.
“Kami ingin STIS menjadi pusat pendidikan sosial yang maju, adaptif, dan berakar kuat pada nilai-nilai lokal Kei,” tutupnya dengan penuh keyakinan. (PM-Dewi)













Discussion about this post