MASOHI,POJOKMALUKU.COM – Semangat pelestarian sejarah lokal mewarnai pelaksanaan lomba bertutur dalam kegiatan Pekan Raya Pendidikan Se-Kecamatan Teon Nila Serua (TNS) menyongsong Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026.
Kegiatan yang digagas oleh mahasiswa KKN Universitas Pattimura (Unpati) Tahun 2026 bersama IKB-TNS dan GAMKI ini diikuti puluhan siswa dari masing-masing perwakilan sekolah yang ada di Kecamatan TNS.
Kegiatan yang berlangsung di pelataran Kantor Kecamatan TNS, Kamis (30/4/2026). Sebanyak 37 peserta tampil memukau dengan kepiawaian mereka menuturkan kisah perjalanan panjang kehidupan masyarakat TNS, mulai dari masa evakuasi dari Pulau Teon, Nila, dan Serua menuju Pulau Seram tepatnya di Negeri Makariki, hingga proses relokasi ke dataran Waipia yang kini menjadi tempat pemukiman.
Lomba bertutur tersebut tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang edukasi sejarah bagi generasi muda untuk kembali menelusuri jejak perjuangan orang tua-tua mereka yang pernah mengalami perpindahan besar-besaran secara paksa oleh pemerintah dengan alasan aktivitas vulkanik dan kondisi alam di wilayah kepulauan TNS.
Dengan gaya penyampaian yang beragam, para peserta berusaha menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat tentang pahit getir meninggalkan tanah kelahiran, perjuangan bertahan hidup di daerah pengungsian, hingga membangun harapan baru di tempat relokasi.
Suasana kegiatan pun berlangsung penuh antusias. Para siswa tampak percaya diri membawakan kisah-kisah yang sarat nilai perjuangan, ketabahan, dan semangat kebersamaan masyarakat TNS.
Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan tiga orang dewan juri yang menilai kemampuan bertutur peserta dari aspek penguasaan materi, ekspresi, intonasi, hingga kedalaman pemahaman sejarah.
Salah satu dewan juri, Viona Mailao saat dikonfirmasi POJOKMALUKU.COM menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh peserta maupun mahasiswa KKN Unpati yang telah menginisiasi kegiatan edukatif tersebut.
“Ini merupakan langkah yang sangat baik, sebab kegiatan seperti ini mampu mengembangkan keterampilan bertutur para siswa. Lebih dari itu, generasi saat ini bisa mengetahui sejarah masyarakat TNS pada saat evakuasi, sehingga nilai-nilai perjuangan para leluhur tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
Menurutnya, lomba bertutur menjadi salah satu metode efektif dalam menanamkan literasi sejarah lokal kepada pelajar, karena peserta tidak hanya membaca cerita, tetapi juga memahami, menghayati, lalu menyampaikannya kembali kepada publik.
Mahasiswa KKN Unpati selaku penyelenggara berharap melalui kegiatan ini, dunia pendidikan di Kecamatan TNS tidak hanya berfokus pada capaian akademik semata, namun juga memberi ruang bagi penguatan identitas budaya, sejarah, dan karakter generasi muda.
Pekan Raya Pendidikan yang digelar dalam menyongsong Hardiknas 2026 ini sendiri menjadi wadah kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah kecamatan,IKB TNS, GAMKI, sekolah, dan masyarakat dalam membangun kesadaran bahwa pendidikan sejatinya harus berpijak pada akar budaya dan sejarah masyarakat setempat.
Melalui lomba bertutur tersebut, sejarah panjang masyarakat TNS kembali digaungkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, agar perjalanan leluhur tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi masa depan.(PM-Red)













Discussion about this post