LANGGUR,POJOKMALUKU.COM – Kehadiran sosok perempuan di pucuk kepemimpinan Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara mulai menghadirkan warna baru. Meski baru seumur jagung menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Raudah Bin Arif Hanubun berhasil mencuri perhatian publik lewat sederet terobosan yang dinilai berani, progresif, dan menyentuh langsung dunia pendidikan serta pelestarian budaya lokal.
Raudah disebut-sebut sebagai figur perempuan tangguh yang membawa energi baru di tubuh Dinas Pendidikan Maluku Tenggara. Semangat kerjanya yang tinggi, keberaniannya mengambil langkah cepat, hingga kemampuannya menggerakkan seluruh unsur pendidikan dari tingkat dinas hingga sekolah-sekolah, membuat dirinya menuai banyak pujian dari berbagai kalangan.
Tak sedikit yang menyebut, kehadiran Raudah sebagai perempuan pertama yang memimpin Dinas Pendidikan Maluku Tenggara menjadi simbol kebangkitan baru, layaknya semangat perempuan-perempuan hebat Kei di masa lampau yang ikut meletakkan fondasi peradaban adat di Bumi Larvul Ngabal.
Sejak awal menjabat, perubahan mulai terasa. Berbagai persoalan internal pendidikan direspons cepat, sementara ruang kreativitas bagi siswa, guru, dan masyarakat justru dibuka selebar-lebarnya. Puncaknya terlihat dalam pelaksanaan Festival Pameran menyongsong Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang digelar di halaman Dinas Pendidikan Maluku Tenggara.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan disulap menjadi panggung besar yang mempertemukan pendidikan, budaya, ekonomi kreatif, dan promosi potensi lokal dari 11 kecamatan di Maluku Tenggara.
Apresiasi terhadap gebrakan itu datang dari berbagai pihak, salah satunya dari Plt Kepala Dinas Pariwisata Maluku Tenggara, Buddi Toffy, yang hadir langsung meninjau festival pameran tersebut.
Menurutnya, apa yang dilakukan Plt Kepala Dinas Pendidikan bersama panitia dan seluruh jajaran merupakan langkah luar biasa yang patut diberikan penghargaan.
“Yang pertama kami apresiasi tentu kepada Ibu Kadis Pendidikan, ketua panitia, seluruh tim Dinas Pendidikan, para guru, dan kolaborasi bersama para camat. Ini kerja besar yang sangat luar biasa,” ungkap Buddi Toffy kepada POJOKMALUKU.COM di Langgur Jumat (1/5/2026).
Ia menilai, festival tersebut bukan hanya menampilkan semangat pendidikan, tetapi juga berhasil mengangkat kearifan lokal, budaya, hingga geliat ekonomi kreatif masyarakat.
Berbagai hasil kerajinan tangan dari kecamatan-kecamatan dipamerkan, kuliner khas daerah ditampilkan, hingga produk pangan lokal seperti embal didorong menjadi identitas promosi budaya Maluku Tenggara.
“Embal ini bukan sekadar makanan pokok, tetapi harus kita kuatkan sebagai ikon kuliner dan barisan budaya kita. Apa yang ditampilkan hari ini memberi pesan bahwa pendidikan bisa berjalan beriringan dengan promosi pariwisata dan ekonomi kreatif,” katanya.
Buddi menambahkan, semarak kegiatan tersebut telah membuka ruang baru bagi para pelaku UMKM, pengrajin lokal, hingga generasi muda untuk tampil menunjukkan kreativitas mereka.
Menurut dia, langkah yang dibuat Dinas Pendidikan saat ini menjadi contoh bahwa sebuah institusi pemerintah tidak hanya bekerja pada rutinitas administratif, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak kebudayaan dan kewirausahaan.
Selain pameran budaya dan kuliner, perhatian pengunjung juga tersedot pada lomba bertutur yang mengangkat cerita rakyat dan kisah-kisah lokal Kei sesuatu yang selama ini mulai terkikis oleh modernisasi.
Baginya, inilah sisi paling penting dari terobosan yang dilakukan Raudah Hanubun, yakni keberanian menghadirkan kembali memori kolektif masyarakat Kei ke dalam ruang pendidikan formal.
“Ini bukan hanya sekadar menghidupkan suasana, tetapi menjadi bentuk revitalisasi budaya. Anak-anak kita kembali diperkenalkan dengan cerita, nilai, dan identitas daerahnya sendiri,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh OPD dan elemen masyarakat menjadikan langkah Dinas Pendidikan sebagai contoh bagaimana program pemerintah dapat menyentuh pendidikan, budaya, pariwisata, sekaligus ekonomi kerakyatan dalam satu gerak bersama.
Di bawah komando Raudah Hanubun yang juga berlatar belakang akademisi, dosen, serta pernah mengemban tanggung jawab sebagai dekan di perguruan tinggi, Dinas Pendidikan Maluku Tenggara kini dinilai tengah bergerak ke arah yang berbeda yakni lebih terbuka, lebih kreatif, dan lebih berani.
Gebrakan ini sekaligus menjadi catatan penting menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, bahwa pendidikan tidak lagi dipandang sebatas urusan belajar mengajar di kelas, tetapi telah menjadi instrumen besar untuk menjaga budaya, menumbuhkan ekonomi kreatif, serta membangun rasa bangga terhadap identitas daerah.
Raudah Hanubun pun perlahan menjelma menjadi simbol baru perempuan penggerak perubahan di Maluku Tenggara seorang “wanita besi” yang membuktikan bahwa kepemimpinan dengan keberanian dan visi mampu melahirkan karya yang langsung dirasakan masyarakat.(PM-Dewi)













Discussion about this post