MASOHI,POJOKMALUKU.COM – Semarak Festival Kor’a Inasua yang digelar oleh Sanggar Seni Niwory Negeri Kuralele terus menghadirkan rangkaian kegiatan edukatif, kultural, dan pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ini ditandai dengan pembukaan lomba mewarnai, edukasi games bertema laut dan kepedulian lingkungan, serta workshop penguatan peran perempuan dalam pengelolaan potensi ekonomi biru di wilayah kepulauan Teon, Nila, dan Serua.
Camat TNS, Ronald Wonmaly, secara resmi membuka kegiatan tersebut dan menyebutkan bahwa festival ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perayaan budaya.
“Festival ini tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi, tetapi juga mentransformasikan warisan budaya menjadi kekuatan ekonomi. Melalui pameran, workshop cipta menu, pelatihan packaging dan pemasaran, hingga panggung seni, festival ini berupaya menjembatani nilai tradisional dengan kebutuhan pasar modern,” kata Wonmaly.Jumat (10/4/2026).
Ia juga menambahkan, dukungan dari berbagai pihak menjadi bukti bahwa Festival Kor’a Inasua memiliki legitimasi yang kuat, baik secara kultural maupun institusional.
“Dukungan dari Kementerian Kebudayaan, LPDP melalui program Dana Indonesiana, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, hingga Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menunjukkan bahwa festival ini memiliki legitimasi kuat. Namun demikian, keberhasilan sejatinya tidak hanya diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari dampak jangka panjang yang dihasilkan,” tegasnya.
Lomba mewarnai yang menjadi salah satu daya tarik utama diikuti oleh total 105 peserta anak-anak yang terbagi dalam tiga kategori usia, yakni 3–4 tahun sebanyak 35 peserta, 5–6 tahun sebanyak 35 peserta, dan 7–8 tahun sebanyak 35 peserta dari berbagai Negeri di TNS. Dengan mengusung tema laut dan kepedulian lingkungan, kegiatan ini menjadi sarana kreatif untuk menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak usia dini.
Edukasi games yang digelar juga mengajak anak-anak memahami pentingnya menjaga ekosistem laut melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan.
Sementara itu, workshop penguatan peran kelompok perempuan menjadi momentum strategis untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam mengelola potensi ekonomi berbasis kelautan.
Diskusi yang berlangsung menyoroti peluang pengembangan usaha berbasis sumber daya laut, mulai dari pengolahan hasil perikanan hingga penguatan produk lokal bernilai tambah.
Lebih jauh, Camat Wonmaly menjelaskan bahwa Festival Kor’a Inasua harus menjadi titik awal terbentuknya ekosistem ekonomi berbasis budaya di wilayah TNS.
“Festival ini harus mampu mendorong lahirnya UMKM kuliner, memperkuat branding produk lokal, serta membuka akses pasar yang lebih luas. Di saat yang sama, festival ini juga menjadi ruang edukasi bahwa pangan lokal bukan sekadar alternatif, tetapi solusi berkelanjutan di tengah dominasi produk instan,” ungkapnya.
Wonmaly juga menyoroti pentingnya festival sebagai instrumen pembangunan berbasis budaya di Maluku khususnya di Maluku Tengah.
“Dengan Indeks Pembangunan Kebudayaan Maluku yang masih berada di bawah rata-rata nasional, inisiatif seperti ini menjadi sangat strategis. Festival bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dalam mendorong pembangunan berbasis budaya,” pungkasnya.
Festival Kor’a Inasua pun diharapkan tidak hanya menjadi ajang tahunan, tetapi juga menjadi penggerak utama kebangkitan ekonomi dan pelestarian budaya masyarakat kepulauan Teon, Nila, dan Serua secara berkelanjutan.(PM-Red)













Discussion about this post